Menggantung Anas di Monas VS Sumpah Pocong Nazar

MONUMEN Nasional (Monas) sudah lama menjadi ikon Jakarta. Monumen yang dibangun Presiden Soekarno itu dikenal luas masyarakat Indonesia hingga jauh ke pelosok negeri. Tempat itu pun menjadi pusat hiburan masyarakat kecil di Ibu Kota.

Nama Monas hari-hari ini dibebani muatan politis. Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum memilih digantung di Monas jika terbukti ikut korupsi dalam proyek pusat olahraga di Hambalang, Bogor, Jawa Barat.

Dalam konferensi pers di Kantor DPP Partai Demokrat pada Jumat (9/3) Anas menegaskan tidak terlibat kasus korupsi proyek Hambalang seperti yang sering diungkapkan terdakwa Nazaruddin di Pengadilan Tipikor Jakarta.

“Saya yakin. Yakin. Satu rupiah saja Anas korupsi di Hambalang, gantung Anas di Monas,” ujar Anas.

Anas juga meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) agar tidak perlu repot mengurusi kasus Hambalang karena kasus itu hanya isu, hanya ocehan dan karangan.

Anas tahu persis Indonesia tidak mengenal hukum gantung. ‘Gantung Anas di Monas’ hanyalah retorika Anas untuk mengatakan dia sama sekali tidak terlibat dalam kasus dugaan korupsi proyek Hambalang yang menelan biaya lebih dari Rp1 triliun itu. ‘Gantung Anas di Monas’ juga bukan acara sulap Anas untuk warga Jakarta yang haus hiburan.

Selama ini Anas dikenal santun berbicara. Nada suaranya selalu datar, tidak meledak-ledak. Dia tidak mudah terpancing atau emosional. Dia juga bukan seorang orator yang piawai. Anas lebih dikesankan sebagai seorang intelektual daripada politikus.

Namun, pernyataan ‘gantung Anas di Monas’ menunjukkan sesuatu telah berubah dalam diri Ketua Umum Partai Demokrat itu. Mungkin saja Anas panik menghadapi gempuran bertubi-tubi dalam hampir satu tahun terakhir sejak Nazaruddin menjadi buron hingga kini disidangkan.

Nazaruddin yakin 100% Anas terlibat proyek Hambalang. Dia bahkan siap disumpah pocong bahwa Anas-lah yang mengatur proyek Hambalang. Anas pula yang disebut berjasa mengurus sertifikat tanah Hambalang. Dana fee proyek Hambalang itulah, kata Nazaruddin, antara lain dibagi-bagikan untuk memenangkan Anas menjadi ketua umum dalam Kongres Partai Demokrat di Bandung pada 2010.

Anas boleh saja membantah menerima uang haram proyek Hambalang. Nazaruddin bisa saja disumpah pocong. Kini neraca hukum sepenuhnya dipegang KPK.

Kita ingatkan KPK agar tidak terpengaruh oleh pernyataan politik Anas. Juga tidak termakan oleh pernyataan Nazaruddin. Justru pernyataan politik itu harus ditransformasi menjadi fakta hukum di persidangan. Nazaruddin sudah mengungkit banyak aib Anas di pengadilan maka akan lebih bijak jika Anas membersihkan diri di persidangan.

Ketua KPK Abraham Samad menegaskan kasus Hambalang sudah ditingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan. Artinya sudah ada tersangka.

Kita yakin KPK di bawah pimpinan Abraham Samad tidak mengenal kompromi dan transaksi. Apalagi menelan ludah sendiri. (MI/YL)

Cannavaro “ngotot” minta foto bareng Ronaldikin

Yohanes Lesmana

Bintang Italia era 2000 an, Cannavaro terkejut ketika bertemu Ronaldikin yang merupakan bintang iklan asal Indonesia, Jumat 24 Februari 2012 malam. Pemain Terbaik Dunia 2006 itu mengira telah bertemu Ronaldinho sesungguhnya di Jakarta.

Jika biasanya banyak orang yang ingin foto bersama dengannya, kali ini justru Cannavaro yang mengajak Ronaldikin foto bersama. Cannavaro bahkan kemudian mengunggah foto tersebut akun Twitter miliknya, @FabioCanna17. “Ronnie yang asli,” tulis Cannavaro melalui Twitter miliknya.

Sontak, foto yang diunggah Cannavaro menjadi perhatian pengikut Cannavaro di Twitter. Salah satu pemain yang mengomentari foto tersebut adalah Wesley Sneijder. Gelandang Inter Milan merespon foto tersebut dengan mengatakan, “Apa kamu gila?”

Cannavaro datang ke Jakarta bersama sejumlah mantan bintang sepakbola lainnya, seperti Robert Pires, Denilson, Edgar Davids, Marco Materazzi, dan Djalminha, dalam rangka ajang Starbol 2012 (YL)

“Mau bubarkan FPI, coba saja kalau bisa”

. Jurnal Demokrasi_Yohanes Lesmana

Ketua DPD FPI Jakarta Habib Salin hanya tertawa menanggapi unjuk rasa penolakan FPI yang bakal digelar Gerakan Indonesia Tanpa FPI di Bundaran Hotel Indonesia, Selasa (14/2).

“Kalau mau demo silakan saja,” kata Habib Salin kepada Beritasatu.com

Menurut dia, tidak semua masyarakat mau membubarkan FPI. “Mereka yang mau membubarkan FPI hanya orang liberal, maksiat dan tidak bermoral,” ucap Habib Salin dengan logat Betawinya.

Menyikapi maraknya tindakan anarkis yang kerap dilakukan FPI, Habib Salin menegaskan bahwa pihaknya selalu diprovokasi. Setiap menggelar aksi, FPI selalu mengikuti prosedur yang berlaku. Hanya saja, preman-preman di lapangan selalu menghadang dan berbuat onar.

“Dia jual, ya FPI beli. Di situ yang bergerak umat. Jadi terlihat radikal,” tegasnnya.

“Preman yang jumlahnya sedikit tidak terpantau kamera wartawan. Jadi FPI lagi yang disalahkan,” cetusnya.

Selama ini, terang Habib Salin, masyarakat selalu melihat sisi negatif FPI. Padahal, FPI juga kerap berbuat kebaikan.

“Salah satunya, waktu bencana meletusnya Gunung Merapi. Habib Rizieq (Ketua Umum FPI) bersama rombongan datang ke Yogya naik motor. Tapi masyarakat justru tak mengapresiasi dengan baik,” keluhnya.

Menanggapi soal isu pembubaran FPI oleh Pemerintah, lagi-lagi Habib Salin tertawa. Menurut dia, isu seperti itu sudah lahir sejak zaman Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tapi, nyatanya FPI tetap berdiri tegak.

“Jadi, bagi Gerakan Indonesia Tanpa FPI, kalau mau bubarkan FPI silakan saja. Kalau bisa!” paparnya.

Seperti diketahui, setelah Kalimantan Tengah, aksi penolakan terhadap FPI juga akan digelar di Jakarta. Tepatnya di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Selasa (14/2) besok, pukul 16.00 WIB.

“Aksi ini merupakan akumulasi keresahan warga Jakarta atas gangguan-gangguan yang kerap dilakukan FPI. Kami harapkan ratusan orang dapat berkumpul besok,” kata Wakil Koordinator Lapangan Gerakan Indonesia Tanpa FPI, Fifi Widyawati.

Menurut dia, aksi ini terinspirasi dari gerakan serupa yang dilakukan di Kalimantan Tengah.

“Kalau mereka bisa. Kami, warga Jakarta pasti bisa. Apalagi, kami langsung meresakan interaksi dengan mereka,” Tandasnya (beritasatu/YL)

“Dibutuhkan nyali yang besar. Selama ini kami diam. Tapi, kalau tidak sekarang, kapan lagi.”

Jurnal_Demokrasi : Yohanes Lesmana

Gerakan Indonesia Tanpa FPI menyebutkan, untuk melawan Front Pembela Islam dibutuhkan nyali yang sangat besar. Apalagi, FPI terkenal dengan tindak tanduk anarkisnya.

“Dibutuhkan nyali yang besar. Selama ini kami diam. Tapi, kalau tidak sekarang, kapan lagi,” ujarnya Wakil Koordinator Lapangan Gerakan Indonesia Tanpa FPI Fifi Widjyanti, hari ini.
Sebelumnya, terang Fifi, masyarakat seperti terbelenggu dan hanya bisa menyaksikan aksi anarkis FPI. “Tapi, kini waktunya kami bersuara,” tegasnya.

Melalui gerakan Indonesia Tanpa FPI, Fifi berharap pemerintah dapat segera bersikap. Sehingga masyarakat terbebas dari belenggu kekerasan, yang kerap dilakukan FPI.

Untuk diketahui, Gerakan Indonesia Tanpa FPI terinspirasi aksi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, yang menolak kehadiran FPI di wilayahnya.

“Semua elemen masyarakat sudah merasa terganggu dan gerah dengan aktivitas anarkis FPI. Selama ini hanya sebatas petisi protes di sosial media. Kalau Kalimantan saja bisa kenapa Jakarta tidak melakukan,” kata Tunggal Pawestri, juru bicara gerakan, usai konsolidasi di Cikini Jakarta.

Fokus dari Gerakan Indonesia Tanpa FPI adalah menolak segala bentuk penggunaan kekerasan yang biasa dilakukan oleh FPI dalam penyelesaian kasus. Kasus terakhir kekerasan yang dilakukan FPI adalah perusakan kantor Kementerian Dalam Negeri 12 Januari 2012 lalu.

Mari “Intip sejarah valentine

Jurnal Demokrasi_Yohanes Lemana
Valentine adalah mitos ribuan tahun silam yang diadopsi dari bangsa romawi dimana sepasang kekasih merayakan rasa sayang dan cintanya. Di Indonesia sendiri atau bahkan dunia, Valentine Day diartikan sebagai hari kasih sayang. Tentu saja perayaan hari valentine ini lebih mengarah pada pengungkapan rasa sayang dan cinta terhadap pasangannya. Dalam hari valentine sang pasangan diwajibkan mengungkapkan perasaanya mungkin melaluikata kata cinta ataupun kata mutiara cinta yang sangat indah dan enak di dengar. Selain kata-kata, pasangan juga bisa memberikan sebuah hadiah berupa bunga, coklat ataupun barang kesukaan sang kekasih. Nah, sekarang mari kita intip beberapa fakta sejarah seputar hari valentine

Menurut sejarah Yunani

Menurut tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari adalah bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera.
Di Roma kuno, 15 Februari adalah hari raya Lupercalia, sebuah perayaan Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Sebagai ritual penyucian, para pendeta Lupercus meyembahkan korban kambing kepada dewa dan kemudian setelah minum anggur, mereka akan berlari-lari di jalanan kota Roma sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai dijalan. Sebagian ahli sejarah mengatakan ini sebagai salah satu sebab cikal bakal hari valentine.
Kisah St. Valentine
Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-III. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.

Namun sayangnya keinginan ini tidak didukung. Para pria enggan terlibat dalam peperangan. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasih hatinya. Hal ini membuat Claudius marah, dia segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.
Claudius berfikir bahwa jika pria tidak menikah, mereka akan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Pasangan muda saat itu menganggap keputusan ini sangat tidak masuk akal. Karenanya St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.

St. Valentine tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini akhirnya diketahui oleh kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tidak menggubris dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin.

Sampai pada suatu malam, ia tertangkap basah memberkati salah satu pasangan. Pasangan tersebut berhasil melarikan diri, namun malang St. Valentine tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis hukuman mati dengan dipenggal kepalanya. Bukannya dihina oleh orang-orang, St. Valentine malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya itu. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara dimana dia ditahan.

Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta kasih itu adalah putri penjaga penjara sendiri. Sang ayah mengijinkan putrinya untuk mengunjungi St. Valentine. Tak jarang mereka berbicara lama sekali. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar.

Pada hari saat ia dipenggal, yakni tanggal 14 Februari gak tahu tahun berapa, St. Valentine menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis putri sipir penjara tadi, ia menuliskan Dengan Cinta dari Valentinemu.

Pesan itulah yang kemudian mengubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta. (YL)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.