KEKERASAN PELAJAR

Oleh : Dede Rianto

kekerasan pelajarSeperti tak ada henti-hentinya pelajar dan mahasiswa dinegeri ini membuat ulah, jika membanggakan mungkin tidak akan seramai ini media menyorotinya. Kekerasan, yah sepertinya kekerasan sudah menjadi bagian yang tak terlepaskan dari sistem pendidikan di Indonesia.

Masih ingat dengan kasus STPDN yang sekarang berubah nama menjadi IPDN, atau STIP yang kasusnya membuat geger semua masyarakat Indonesia. Dalam dua kasus ini hal yang hampir sama terjadi dimana pelajar menjadi bulan-bulanan para seniornya, bahkan hingga meregang nyawa.

Atau masih ingat dengan para pelajar yang tergabung dalam geng-geng motor bahkan geng anak perempuan, yang bertindak anarki dan semaunya. Sepertinya palajar tidak mengetahui makna atau arti sesungguhnya pelajar, mereka lebih cenderung bersikap semaunya dan menganggap dirinya paling hebat.

Kasus terbaru adalah pemukulan senior terhadap juniornya di SMA 82 Jakarta, , Ade Fauzan Mahfuza, siswa kelas X (kelas satu) SMAN 82 Selasa (3/11) dikeroyok sejumlah siswa kelas XII gara-gara melewati ‘Jalur Gaza’ yakni selasar di depan kelas XII. Sampai Sabtu petang, kondisi Ade masih lemah dan sulit mengunyah makanan karena bibirnya robek sehingga harus mendapat jahitan. (warta kota)

Pada sebagian kasus-kasus seperti ini, sekolah cenderung menutup-nutupinya dengan alasan menjaga nama baik sekolah. Tidak hanya pihak sekolah, para alumninya pun berusaha menutupi dengan cara menghalangi para wartawan meliput disekolahnya tersebut.

Pantaskah tindakan para pelajar tersebut? Dan pantaskah pihak sekolah menutupi tindakan-tindakan anarkis para siswanya? Sungguh ironis memang, pelajar yang seharusnya pergi kesekolah untuk menuntut ilmu, untuk kebaikan bangsa, negara dan keluarga justru bertindak bak preman pasar.

Sudah serendah itukah moral pelajar dan mahasiswa kita? Pelajar dan mahasiswa pun sebenarnya tidak bisa disalahkan 100%, faktor keluarga, lingkungan dan bahkan tontonan sehari-hari pun dapat mempengaruhi para pelajar dan mahasiswa dalam berperilaku dan bertindak.

Peran ketiga faktor ini sangat penting, dirumah sudah sepatutnya seorang anak mendapatkan kasih sayang arahan dan contoh yang benar dari para orang tua. Sehingga ketika dia turun ke lingkungan dapat beradaptasi dan bersikap baik dan sewajarnya. Faktor yang ketiga ini merupakan faktor yang cukup penting.

Pers yang mempunyai salah satu fungsi kontrol sosial, seharusnya dapat menanamkan sikap-sikap yang memberikan contoh kebaikan dan kebennaran, bukan justru menanamkan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

Sudah saatnya para orang tua, pendidik dan pelaku pers dalam hal ini media, lebih memberikan porsi-porsi pendidikan dan nilai-nilai norma yang baik sehingga pendidikan dapat berjalan sebagaimana mestinya, dan tradisi-tradisi kekerasan akan hilang dengan sendirinya. (DR)

About these ads

One Response to KEKERASAN PELAJAR

  1. The Black Ship mengatakan:

    Setujuuuu….!!!
    Hilang kan kekerasan dan rasisme di Indonesia.Kita harus bersatu dengan satu bendera merah putih…Hilangkan segala bentuk hal2 yang membuat kita beda baik itu berbeda dari segi fakultas atau jurusan,yang penting kita tetap satu untuk Indonesia dan Indonusa….

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: