Fenomena Artis Mewarnai Panggung Politik Indonesia..

oleh : Yohanes Lesmana
Ada yang berubah dalam dunia politik kita sekarang. Kini, semakin banyak saja selebriti yang mencalonkan diri jadi kepala daerah lewat pilkada langsung. Pada saat yang bersamaan, politisi juga mencoba masuk lingkungan selebriti dengan penampilan bak artis terkenal atau muncul dalam industri hiburan. Apa yang sesungguhnya terjadi? Citra artis sebagai orang yang ganteng, cantik bisa masuk kriteria masyarakat untuk memilihnya. terlepas dari apakah artis ini mempunyai track record (rekam jejak) yang baik atau tidak. ditambah, masyarakat yang semakin lama semakin “muak” dengan perilaku elite politik yang sudah malang melintang di dunia politik. Mereka disibukkan dengan mengurusi kepentingan diri dan kelompoknya. Apalagi kemudian beredar isu banyaknya anggota legislatif yang notabene berlatar belakang Parpol terlibat persoalan korupsi. Kenyataan ini sungguh membuka mata banyak pihak akan sosok negatif elite politik.
Termasuk juga ”keengganan” kalangan DPR untuk digeledah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menjadi perilaku yang jelas tidak simpatik di mata masyarakat. Peristiwa semacam ini merupakan tamparan keras yang semakin memperburuk citra anggota legislatif kita. Di sisi lain ada artis yang tiba-tiba muncul dan sudah dikenal oleh masyarakat lewat ekspos media massa. Dengan keluguan dan mengandalkan popularitas, mereka kemudian tampil ke gelanggang politik. Walaupun warna-warni kehidupan artis yang beragam dari mulai berita tentang narkoba di kalangan artis masih sering kita dengar. terbukti sekian banyak korbannya telah menikmati hidup di hotel prodeo. Tradisi kawin cerai dengan bunga rampai perselingkuhannya juga tidak ketiggalan menjadi menu utama artis. Kini artis ramai-ramai memasuki dunia politik, bukan hanya merambah legislatif tetapi telah berani bertarung diposisi eksekutif. Wacana itulah yang terus berkembang, meski pernah tenggelam ketika Marissa Haque gagal meraih kemenangan saat diusung menjadi calon Wakil Gubernur Banten. Kemenangan pasangan Ahmad Heryawan dan aktor Dede Yusuf dalam Pilkada Jawa Barat mengukuhkan telah datangnya suatu era baru dalam demokrasi di Indonesia; Selebriti Politik! “Celebrity Politics” mulai dikenal dalam terminologi Ilmu Politik setelah para bintang film, pemain sinetron, komedian, dan penyanyi terjun ke dunia politik, bukan sebagai penghibur panggung kampanye atau pengumpul suara. Tapi, mereka, serius mengejar kursi jabatan publik seperti anggota DPR, bupati, walikota, gubernur atau bahkan presiden. Pengalaman di Amerika Serikat dan Filipina membuktikan bahwa film dan televisi telah menjadi pembuat raja (“kingmaker”) yang memungkinkan Arnold Swarchzenegger menjadi Gubernur California dan Joseph Estrada menjadi Presiden Filipina. Di Indonesia, selebriti politik bukan saja telah membuat lakon “Petruk Jadi Raja”, tapi juga “Artis Jadi Penguasa”. Sinetron Si Doel Anak Betawi telah membuat Rano Karno menjadi Wakil Bupati Tangerang. Sementara iklan obat sakit kepala yang gencar tayang di TV telah mendorong aktor Dede Yusuf duduk di kursi Wakil Gubernur Jawa Barat.. Televisi menjadi medium sempurna bagi selebiriti untuk mendulang kemasyhuran dan citra diri. Sementara sistem pemilihan langsung, telah membuat selebriti yang sudah populer dan dikenal publik menjadi pilihan rakyat. Syaiful Jamil, Pasha (Ungu), David Chalik, Primus Yustitio menambah deretan artis yang akan mengantri di panggung politik. Dalam sistim pemilihan langsung, seperti dikemukakan oleh sutradara Garin Nugroho, popularitas calon menjadi sangat penting. Pilpres atau Pilkada ditamsilkan oleh Garin sebagai sebuah Opera Sabun. Siapa yang paling ganteng dan cantik, apalagi pandai menyanyi, akan menjadi idola yang dipuja. Warga California memilih Arnold Swarchzenegger sebagai Gubernur karena terobsesi dengan postur badan kekar berotot besi si “Terminator” yang membasmi kejahatan tanpa belas kasihan. Di Tanah Air, bukan tidak mungkin warga Tangerang memilih Rano Karno sebagai Wakil Bupati karena terpesona oleh kebajikan Si Doel Anak Betawi yang selalu membela dan membantu warga. Bukan mustahil, pemilih di Jawa Barat mencoblos Dede Yusuf karena terkesan dengan iklan keperkasaan Dede membasmi kuman penyebab sakit kepala, atau kejeniusan “Jojo” dalam sinetron “Jendela Rumah Kita”, yang mampu bertahan selama 4 tahun (1989-1992) di layar kaca TVRI.”pesona pribadi” bukanlah ruang hampa, memiliki makna yang tinggi dalam ruang politik. Nama tenar dan popularitas lebih penting ketimbang memaparkan program. Tradisi pemilu kita selama ini, juga penuh dengan janji-janji manis kandidat disetiap pilkada. Apalagi sang artis selama ini memiliki peran-peran baik, didukung dengan wajah yang tampan, menjadi daya tarik yang luar biasa khususnya di kalangan remaja dan kalangan ibu rumah tangga. Namun, menjadi masyhur dan dipuja tidak selamanya menjamin kemenangan dalam Pemilu. Marisa Haque gagal dalam Pilkada Banten. Pemain sinetron Anwar Fuadi jeblok di Konvensi Partai Golkar. Kita tunggu saja, apakah panggung politik 2009 akan “dipercantik” oleh tokoh-tokoh yang lebih mengedepankan popularitas keartisannya atau malah si politikus tua yang sudah “kapalan” di panggung politik yang mengemudikan arah. Semoga dari sifat keartisannya dapat mempopulerkan indonesia ke luar serta merubah keadaan yang semakin mencekik bukan hanya sekedar mempercantik panggung poltik tanah air.

One Response to Fenomena Artis Mewarnai Panggung Politik Indonesia..

  1. Martyn_Jurnal'08 mengatakan:

    Bner bgt th..

    Kita jan hanya milih mreka karna titel mereka yang seorang artis, kita kan butuh pemimpin yang bisa bawa perubahan seorang pemimpin yang bisa memandu kita jadi bangsa yang lebih baik lagi.

    Bukan pemimpin yang menang karna modal tampang dan beken karna mereka seorang artis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: