MINGGU PAGI YANG HAMBAR DUKUNGAN

Oleh : Nelly Marlianti ‘sprache’

Minggu, 17 Agustus 2008 Indonesia makin bertambah umurnya menjadi 63 tahun. Semarak kemerdekaan pun terasa diseluruh wilayah Indonesia mulai dari lomba-lomba serta upacara bendera mulai dari Istana Merdeka hingga Sekolah-Sekolah. Seolah tidak mau ketingalan dengan yang lainya, kampus kita tercinta UIEU ini mengadakan sebuah ceremonial upacara bendera setelah sekian lamanya kampus kita tidak dihiasi oleh semagat kemerdekaan dan nasionalisme.
Upacara ini digelar di halaman depan gedung utama tepat pukul 08.30 WIB dengan pembina upacara Irwan Ibrahim. Meskipun upacara ini berlangsung ala kadarnya dengan kira-kira jumlah peserta 70 orang tanpa dilengkapi tim paduan suara, upacara ini tetap berjalan hingga selesai. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa hanya segelintir mahasiswa yang datang, dan mengapa civitas akademika juga tidak turut memeriahkan acara ini?
Franky Purnomo Angelo yang sempat Suara Kami temui hari itu, menyampaikan kebangaan sekaligus kesedihannya. “Salut untuk BEMU, ini pertama kalinya BEMU mengadakan acara seperti ini, walaupun sepertinya nggak ada dukungan. Mahasiswa Indonusa 5000 tetapi yang datang upacara hanya sekitar 50 orang, kemana rektorat? coba kalau ada acara band Ungu, berapa banyak mahasiswa yang hadir dan jam berapa sudah ramai?” Ungkap sang mantan aktivis kampus itu sambil meneteskan air mata haru. Memang miris rasanya melihat upacara perdana itu hanya dihadiri oleh segelintir mahasiswa yang benar-benar masih memiliki semagat nasionalisme. “ Dengan upacara segelintir orang ini, sudah merefleksikan seberapa besar mahasiswa punya kwalitas yang memiliki jiwa-jiwa yang membangun. Mungkin bagi orang yang tengah tidur saat ini acara ini kecil, tapi coba tarik ulur benang merah ke belakang tanpa adanya 17an akankah mereka dapat tidur hari ini,” tandas Franky kembali.
Serupa dengan Franky, Yohanes Lesmana atau yang kerap disapa Boho menyatakan kesedihanhya. “ Saya sedikit sedih karena dari sekian banyak mahasiswa di kampus emas hanya sekitar 70 an yang hadir untuk upacara yang hanya 1 jam,” Ungkap boho selaku ketua pelaksana upacara. Saat suara kami menanyakan tentang tujuan diadakannya upacara tersebut ia menyatakan bahwa dirinya melihat nilai-nilai kebangsaan khususnya upacara sudah mulai menghilang. Ketika disingung mengenai ketikdakhadiran tim paduan suara dirinya mengakui bahwa ketidakhadiran paduan suara merupakan kesalahannya. “ Karena persiapan sebelum gladiresik itu paduan suara tidak ada, kurang kordinasi, serta keterbatasan alat (mike) karena saat itu bagian rumah tangga tutup.”
Seolah kompak dengan Franky serta Boho, Novi dan Novan yang sempat Suara kami temui setelah upacara menyatakan kekecewaanya. “ Agak kurang pesertanya cuma sedikit, katanya pihak Universitas mau pada datang tetapi ko malah pada ngak datang. Kurang semangat juga, seharusnya nyanyi lagu Indonesia raya bareng-bareng, nyanyi lagu 17 an juga ngak semangat kurang kencang,” ungkap mereka secara bersamaan.
Berbeda dengan Franky dan Boho, Irwan Ibrahim terkesan sumringgah dengan diadakannya upacara pagi itu. Irwan yang Suara Kami temui di ruang kerjanya selesai upacara menyatakan bahwa dirinya sempat terbayang saat upacara mahasiswa baru beberapa tahun yang lalu setelah itu ia tidak pernah upacara kembali. Menurutnya upacara hari besar negara kayanya memang perlu diadakan. “ Misalnya saja upacara hari pendidikan nasional, ya paling tidak kita berasa serta merenunggi kalau hari ini hari pendidikan nasional,” Harap dirinya. Saat suara kami menanyakan tentang ketidak hadiran pihak rektorat untuk sekedar memeriahkan suasana, beliau menyatakan bahwa Kemala Motik tidak dapat hadir karena ada keperluan luar kota yang tidak dapat ditinggalkan.
Mungkin banyak mahasiswa UIEU yang berpikir apalah arti penting dari sebuah upacara bendera, atau banyak yang menyangka upacara hanyalah bagian dari permainan anak SD. Bahkan ada banyak mahasiswa yang memiliki pemikiran upacara bendera tidak lebih berharga dari sekedar melanjutkan tidur mereka sampai siang.Memang upacara bendera hanyalah upacara dalam bentuk ceremonial, tetapi dibalik itu semua tersimpan sebuah semagat dan rasa nasionalisme terhadap negara Indonesia. Harusnya mahasiswa UIEU sadar dan mau peduli terhadap rasa nasionalisme bangsa yang semakin memprihatinkan dan semakin tergilas budaya hedonisme. Mereka juga seharusnya berpikir bagaimana mereka dapat hidup merdeka, bebas melakukan apapun tanpa penindasan penjajah itu berkat siapa? Yah, mudah-mudahan saja waktu dan kesadaran akan memembuat mahasiswa UIEU sedikit lebih perhatian terhadap upacara semacam ini. Nantikan saja. . Let’s see together!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: