Di Tengah Fenomena Air Bersih, Politikus Bicara Kesejahteraan

Oleh : Leo

Air merupakan sumber kehidupan. Sekitar 80% tubuh manusia terdiri dari air. Bahkan beberapa organ tubuh memiliki kandungan air yang tinggi, misalnya: otak 90% air dan darah 95% air.

Dr. James M. Rippe, kardiolog dari AS menyarankan untuk minum paling sedikit 1 l lebih banyak dari apa yang dibutuhkan rasa haus kita. Pasalnya, kehilangan 4% cairan saja akan mengakibatkan penurunan kinerja kita sebanyak 22%! Bisa dimengerti bila kehilangan 7%, kita akan mulai merasa lemah dan lesu ( http://www.indomedia.com/intisari/2001/Feb/air.htm ).

Biasanya jika kita pergi ke sebuah praktek pengobatan alternatif, kita kerap kali diberi air putih. Terlepas dari percaya atau tidak dan ilmiah atau tidak, air bagi sang “dokter” hanyalah media dimana pada dasarnya pengobatan tersebut mengandalkan doa dan restu dari Sang Pencipta. Hal ini menunjukkan bagaimana air dipandang sesuatu yang penting dari berbagai sisi.

Beberapa waktu lalu program Mata Kamera yang disiarkan oleh TV One mengangkat soal pembuangan kotoran tinja ke wilayah Kali Bekasi dimana kali tersebut adalah salah satu sumber air bagi warga Jakarta yang dikelola oleh Perusahaan Air Minum ( PAM ). Artinya, air yang kita konsumsi selama ini bersumber  dari kali yang digunakan pembuangan kotoran tinja.

Memang petugas telah mengatakan air tersebut telah diolah dengan menggunakan bahan kimia. Tapi, apa lantas masalah air bersih ini selesai sampai di sini? Selain soal jaminan kebersiahn dari air PAM, masalah ini juga menyangkut kebersihan lingkungan. Saat musim kemarau air Kali Bekasi terlihat agak kehitam-hitaman akibat limbah tinja yang sudah menyatu dengan air.

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab? Jika sudah begini maka semua pihak akan saling menyalahkan. Lalu di mana peran pemerintah sebagai institusi pemerintahan?

Kekayaan Alam Punya Siapa?

Bangsa ini selalu mengklain bangsa yang kaya akan sumber daya alam. Lautan yang luas dengan ikan – ikan nya, Hutan yang lebat, dan gunung yang tinggi. Penulis bukan seprang profesor. Tapi bukan kah air dari pegunungan yang diberikan ALLAH SWT kepada Indonesia seharusnya bisa dinikmati oleh rakyat. Tapi apa yang terjadi? Air milik ALLAH saat ini dikuasai oleh swasta. Mungkin saat ini untuk mengkonsumsi air yang tingkat kebersihannya paling terjamin adalah Aqua.

Artinya, jika keluarga saya yang berjumlah lima orang ingin mengkomsi air bersih, maka kami saya terpaksa mengeluarkan uang sekitar Rp 10.000/hari untuk segalon Aqua. Dan sebulan menjadi Rp 300.000 untuk air minum yang bersih. Bagi sebagian orang, jumlah ini memang tidak masalah. Tapi apakah artinya bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan berhak mengkonsumsi air olahan dari aliran sungai yang digunakan sebagai pembuangan limbah tinja?

Oleh karena itu, Penulis ingin mengingatkan pada pemimpin bangsa ini yang sedang sibuk hitung-hitungan kekuasaan. Saat ini kalian tengah sibuk bicara tentang kesejahteraan,pembangunan,keadilan, dan sebagainya. Tapi jangan lupa kesehatan ( dalam hal ini air bersih )adalah salah satu masalah yang harus mendapat perhatian khusus. Jika rakyat sudah sehat, perut tecukupi, pendidikan terjangkau, maka otak anak bangsa akan mulai berpikir bagaimana menciptakan peluang usaha untuk membangun ekonomi, bagaimana menciptakan satelit buatan Indonesia, bagaimana menciptakan Robot yang bermanfaat, dan lainnya. Tanamkanlah bahwa kalian ( pemerintah ) adalah ibu bagi kami ( rakyat ) dimana kesalahan kami adalah hasil didikan kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: