Pemberontakan Papua bukti perlawanan terhadap Kapitalisme

Oleh : Yohanes Lesmana.

image.tempointeraktif.com

Tragedi Freeport adalah aksi dari sebuah drama revolusioner baru di Papua Barat, menyusul letupan senjata api yang melontarkan mortirnya tepat mengenai sasaran dan membuat korbannya terkapar. Bersamaan dengan itu pula babak baru pada kisah melodrama kontra-revolusioner usang direfleksi kembali

Di Tanah Papua, yang alhasil tanah kelahiran nenek moyang mereka, para penduduk malah menerima sebuah kekalahan gemilang dari kekuasaan dominan yang telah meraup kekayaan alam yang sangat kaya di tanahnya. sebuah tragedi yang memilukan daripada sekedar cerita keluarga yang memilukan ala Manohara.

Frustrasi dengan keputusan bodoh yang dipaksakan oleh pemerintah Indonesia terdahulu berakhir dengan penyerahan, dimana konsekuensinya adalah ‘pemberadaban’ yang melibas seluruh nilai-nilai kearifan lokal mereka. Penduduk Papua tampil kembali ke atas pentas dan memaksa banyak pihak internasional memperhatikan mereka.

Tujuh orang Papua ditangkap aparat polisi, Selasa (21/7). Mereka ditangkap oleh aparat Polres Yapen Papua. Mereka diduga terkait dengan kasus kontak senjata saat jajaran Reskrim Yapan di kampung Yapan, Distrik Yapen Selatan, Yapen, Papua awal Juli lalu.

Menurut Wakil Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Sulistyo Ishak, ketujuh orang itu masih dalam penyelidikan apakah terkait kasus penyerangan Freeport atau kasus lainnya. “Masih kami selidiki terkait kasus apa,” kata dis usai jumpa pers di Bellagio, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/7). Mereka adalah PU, 26 tahun, YA (27), LA (47), OA (31), AB (18), YR (59), dan OY (25).

Dari mereka, polisi menyita barang bukti berupa dua pistol rakitan, satu granat aktif, 14 butir amunisi , empat senapan angin, dua bendera Bintang Kejora, Seperangkat peralatan perang tradisional, berupa busur, panah, kapak, kalawai dan parang. Ketujuh tersangka kini masih diperiksa di Polda Papua.

Di satu sisi, Aparat menilai masyarakat terlalu brutal menyikapi Penanaman modal asing yang perlu dikritisi, diatur, dan dibatasi. Namun di sisi sebaliknya masyarakat pun menilai kesejahteraan rakyat harus dikedepankan, kalau tidak, kasus penguasaan kekayaan alam seperti yang terjadi di Papua oleh PT Freeport, malah menempatkan negara dan rakyat menjadi penonton akan yang terus diam memandang sebuah film yang berakhir pada pembodohan karakter. Hasil emas dari tanah Papua terus di keruk pihak asing dengan imbalan 1% saja dari hasil. Sedangkan pemerintah terus me”Lanjutkan” penjajahan yang ada di tanah papua.

Jika dari dulu saja sarjana lulusan Indonesia digunakan untuk mengelola Freeport, mungkin hutang Indonesia akan tertutup oleh kekayaan emas yang terkandung di tanah Papua. Namun cerita itu telah berakhir karena “Jeroan” emas yang ada di dalam tanah Papua telah kosong terkeruk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: