Bangga menjadi Indonesia, bangga berbudaya Indonesia dan bangga mencintai alam Indonesia

Oleh : Dede Rianto

Indonesia negeri indah sejuta pesona, keindahan alamnya tiada tara, kebudayaannya begitu kaya dan beragam. Indonesia terletak di antara dua benua, dua samudera dan dibelah oleh garis khatulistiwa. Letaknya yang begitu strategis dan jumlah penduduk yang besar membuat Indonesia menjadi tempat tujuan para pengusaha dan wisatawan dari berbagai negara.

Sudah lebih dari setengah abad negeri ini merdeka, susah payah para pejuang berusaha memerdekakan negeri ini, semua dikorbankan, harta, keluarga bahkan nyawa sekalipun rela mereka korbankan. Puncaknya 17 agustus 1945, bung karno dan bung hatta atas nama bangsa indonesia berani memproklamasikan diri menjadi bangsa yang merdeka.

Selama 64 tahun Indonesia merdeka, sudakah kita mengisi kemerdekaan ini? Sudakah kita membangun bangsa ini? Membawa harum nama bangsa ini didunia internasional? Sudah cukupkah yang kita lakukan selama ini untuk negeri ini…  mengutip perkataan Jhon F. Kennedy “ jangan tanyakan apa yang negeri ini telah berikan kepadamu, tapi tanyakan apa yang sudah kau berikan pada negerimu…”

Beberapa waktu terakhir ini, martabat bangsa kita yang berdaulat dan merdeka telah diinjak-injak oleh negara yang mengaku saudara serumpun dengan bangsa kita. Ambalat, blok yang mengandung banyak minyak bumi, di klaim sepihak oleh negeri yang mengaku jiran ini. Negeri itu merasa pede karena pernah memenangkan klain atas pulau sipadan dan ligitan, hingga saat ini mereka berulah kembali.

Tidak cukup sampai disitu, Kebudayaan bangsa kita pun terus dibajak oleh negeri yang pernah dijajah oleh inggris ini. Sebut saja, batik, keris, rendang, angklung, lagu rasa saya nge, wayang, reog ponorogo, sampai yang paling terbaru klaim tarian pendet dalam iklan promosi pariwisata negeri tersebut. Sungguh tindakan yang sangat menyakiti hati bangsa kita yang memiliki kebudayaan tersebut sebenarnya.

Belum habis masalah diatas sudah muncul beberapa permasalahan baru, klaim malaysia terhadap salah satu pulau dikepulauan Riau (pulau jemur) disitus internet, penghinaan lagu Indonesia Raya, hingga isu plagiat lagu kebangsaan Malaysia terhadap lagu terang bulan. Lalu bagaimana sikap bangsa Indonesia menyikapi permasalahan-permasalahan tersebut?

Pemerintah, seperti biasa cenderung berhati-hati dan lebih memilih pemecahan masalah melalui diplomasi, meskipun kita tahu bahwa dalam hal berdiplomasi dan berkelit, negeri seberang jagonya, terbukti dengan belum selesainya banyak permasalahan para TKI disana, juga jangan lupa mengenai  hilangnya sipadan dan ligitan dari tangan Indonesia. Sungguh memilukan.

Masyarakat, mungkin mempunyai semangat yang lebih jika dibandingkan dengan tindakan pemerintah. Mulai dari aksi turun kejalan, pembakaran bendera malaysia, sweeping warga negara malaysia dibeberapa daerah, pemboikotan produk malaysia, hingga pengumpulan massa untuk gerakan ganyang malaysia. Apakah itu cukup? Apakah malaysia takut? Kapok? Atau bahkan meminta maaf kepada bangsa Indonesia? Jawabannya tidak…

Bukan sikap seperti itu yang seharusnya ditunjukan oleh bangsa ini, bukan sikap reaktif, bukan disakiti baru berteriak atau bukan diinjak terlebih dahulu baru melawan. Seharusnya kita menunjukan sikap proaktif, kita seharusnya bisa menjaga dan melestarikan pulau-pulau terluar wilayah Indonesia, kebudayaan dan warisan bangsa kita. Pedulikah kita akan itu semua?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mencintai alam, kebudayaan dan peradabannya. Bangsa yang selalu mengklaim milik bangsa lain adalah bangsa tanpa identitas, dan bangsa yang tidak menghargai alam, kebudayaan dan peradabannya sendiri juga merupakan bangsa tanpa identitas. Mari kita sebagai generasi penerus bangsa, mulai tanamkan pada diri kita bahwa “kita bangga berbangsa Indonesia, bangga berbudaya Indonesia dan bangga mencintai alam Indonesia”. (DR)

One Response to Bangga menjadi Indonesia, bangga berbudaya Indonesia dan bangga mencintai alam Indonesia

  1. wendri triadi mengatakan:

    Memang benar negara Indonesia adalah negara besar dengan pesona alamnya dan sumber daya alam yang menguasai hajat hidup orang banyak.
    saya mengajak teman2 untuk melihat masalah indonesia dengan malaysia itu secara dialektis,bukan linear.seperti halnya secara dialektis,malaysia melakukan provokasi bukan pertama-tama karena keberaniannya,tetapi lebih karena Indonesia di persepsikan lemah. secara timbal balik dapat dikatakan,keberanian malaysia bersumber pada kelemahan Indonesia.Tanpa takut-takut pula Malaysia menjarah hutan serta ikan Indonesia.Tidaklah mungkin malaysia seberani itu jika Indonesia di pandang kuat.
    Gambaran kelemahan itu meluas dan mendalam.Kelemahan Indonesia antara lain terlihat di langit Indonesia yang sepi dari raungan pesawat tempur.Pemandangan serupa terlihat juga di laut.Gugusan kapal perang Indonesia terlihat sangat kecil dan bergerak lamban,antara lain karena usia di tengah samudera luas nusantara.
    oleh karena itu saya mengajak teman2 untuk membaca buku “Ganyang Malaysia” karangan Efantino F dan Arifin SN penerbit Bio Pustaka,Yogyakarta dan buku “Malaysia membungkam Indonesia” karangan M.Wibowo penerbit PUSTAKA SOLOMON,Yogyakarta.
    Membahas konflik antara negara tetangga tersebut kita harus kembali ke zaman Majapahit lalu bergerak ke persaingan antara inggris dan belanda dalam memperebutkan koloni-koloni mereka lalu kita harus membaca artikel kenapa inggris ingin membentuk federasi malaya yang terdiri dari sabah,serawak,dan brunei.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: