Hikmah, Boikot, dan israel dalam bingkai Leo

Sebelum saya menulis, saya memperkenalkan diri dimana saya adalah pendukung Palestina dan pendukung Hamas (walau saya belum mempelajari seluruhnya ttg Hamas). Walau begitu, saya coba subjektif saya tidak berlebihan.

Yang menarik bagi saya dibalik Palestina, Hamas, Fatta, dan israel, saya melihat sisi lain yg bisa kita lakukan. Persoalan ini setidaknya saya melihati bisa dipandang dari dua sisi. Sisi kemanusiaan. Dan sisi dimana sebagai seorang muslim, dimanapun dan siapapun anda/kalian, kita adalah saudara.

Anda memandang dari sisi mana? negara Eropa seperti Jerman dan negara lainnya telah mengecam tindakan tentara israel. Menurut mereka tindakan tentara israel brutal dan bertentangan dengan nilai kemanusiaa. Saya rasa, sebagai manusia internasional kita sepakat untuk tidak setuju dan mengecam israel tanpa melihat kita suku apa, agama apa, dan dari kelompok mana kita berasal.
(kecuali ada pemikiran lain yg mendukung israel, terserah dan sah2 saja)

Dan jujur, sebagai seorang Muslim ( walau blom taat terhadap ajaran Islam itu sendiri), ada kedongkolan yg begitu mendalam. Artinya, jika negara atau kelompok nonmuslim kesal dan mengecam tindakan israel, apalagi kita yang Muslim. Kedongkolannya mencapai dua kali lipat.

LALU APA..!!??
Hari ini demontrasi terjadi dimana-mana. Ada pengecaman, pem-blokade an kantor konsulat israel, doa bersama, dan berbagai kegiatan lainnya.

Menurut saya, semangat solidaritas Muslim Indonesia baiknya bukan dengan semangat perang atau perlawanan senjata. Tapi sebagai solidaritas Muslim lebih baik dengan semangat menjadi pribadi yg Islami (religius). Artinya, jangan kita memaki-maki israel membantai kaum Muslim, tp diri sendiri ga pernah sholat, puasa, dan ibadah lainnya (ky gw). Hikmah dari serangan israel adl menjadikannya semangat perubahan dari yg Islam KTP menjadi Islam yang taat.

“saya kesal melihat israel karena menyerang kaum muslim atau sodara saya”. “ehhhhh… sodara dari mana? situ Muslim? koq tingkah lakunya ga ky Muslim?”

Berdasarkan pemikiran tersebut, saya berpikir kalau kita bisa berpartisipasi dalam membela kaum Muslim. perlawanan kita jika ingin membela Palestina bisa dengan berjihad. Berjihad tidak hanya dengan senjata. Tapi mari kita berjihad dari pribadi yahudi menjadi pribadi Islami.

Coba kita intropeksi diri. Kita selalu meninggalkan shalat, selalu lupa zakat, belum lagi suka berbohong, mempunyai sifat iri, sombong, ada yg suka nonton film porno, mabuk2an, jinah, dan masih banyak lagi dosa yang kita lakukan. Untuk itu, marilah momentum kekjaman israel ini sebagai momentum kita utk bangkit sebagai seorang muslim. Karena, dengan berprilaku seperti sifat diatas, bukan hanya menjauhkan kita dengan Allah. Tapi jg meragukan kredibilitas kita sebagai saudara dari warga Palestina. Bahkan dengan siprilaku seperti itu, maka YAHUDI AKAN MENERTAWAI KARENA:
JIKA WARGA MUSLIM DI PALESTINA DISERANG SECARA FISIK, MAKA KETAHUILAH BAHWA KITA MUSLIM DI INDONESIA DISERANG MELALUI KETERGANTUNGAN PRODUK, PENGHANCURAN MORALITAS, DLL. BAHKAN LEBIH PARAHNYA KETERGANTUNGAN POLITIK..!!

Untuk yg semangat nya sampai berhasrat berangkat k Gaza utk perang, saya “no komen” dan balik ke pribadi, pengetahuan, dan keyakinan nya. Mungkin mereka punya dasar, persiapan, dan level yang berbeda mungkin. Tapi utk yg masyarakat umum, lebih baik kita berjihad melalui perubahan diri.

BOIKOT..!!??
Semangat boikot bukan hanya soal solidaritas agama , tapi jg bisa di manfaatin sebagai momen nasionalisme atau dengan kata lain dimana saatnya anak bangsa belajar melepaskan diri dari ketergantungan produk asing dan semangat membuat produk sendiri demi perekonomian mandiri bangsa Indonesia.

Saya rasa kita hampir ga bisa lepas sepenuhnya dari produk yahudi atau produk AS yg katanya mendanai israel. Produk mereka sudah menjadi kebutuhan di sendi-sendi kehidupan kita. Hanya saja mungkin kita bisa me-minimalisir. Pemboikotan massal (jika berhasil) jg menimbulkan masalah. misalnya jika seluruh rakyat Indonesia memboikot produk A, efek dari bangkrutnya perusahaan tsb jg menimbulkan pangangguran massal terhadap. Karyawan orang Indonesia yg kerja di perusahaan yahudi atau AS, klo berdasarkan data perusahaan yg saya liat, jumlahnya mungkin mencapai ribuan orang.

Seperti India yang digawangi Gandhi. Ia berani mengaminkan sekaligus mencari jalan keluar ketika meneriakan Boikot produk luar negeri. Pakai produk sendiri. mungkin Ghandi mampu mengagas hidup sederhana pada saat itu. Artinya mungkn jg kita ga punya tokoh sekaliber Ghandi yg mampu memimpin gerakan ini. Sebenarnya dengan idealisme, kita bisa hidup susah dan menderita tanpa produk asing. hanya saja kosekuensi nya serba kekurangan dan banyak yg kehilangan pasokan kebutuhan yg kita dapat sekarang ini. Nahhhh,,,, pada saat seperti iniah momen utk mendorong kita membuat produk sendiri. Hanya saja masalahnya mungkin di Indonesia belum ada yg mampu memimpin idealisme tesebut seperti Ghandi. pd dasarnya bukan blom mampu, tapi telah bergantung.

Ini adalah harapan dimana apa yg saya maksud dengan:
“PEMBOIKOTAN BISA DIJADIKAN MOMENTUM BAGI INDONESIA MEMBUAT PRODUK SENDIRI SEBAGAI PRODUK PENGGANTI DAN SEBAGAI LAPANGAN KERJA PENGGANTI”.
Seperti kata pepatah; SEKALI DAYUNG DUA PULAU TERLEWATI”. Indonesia bisa lepas dari ketergantungan terhadap produk asing. Jadi sebenarnya, gerakan boikot jg harus terkonsep. bukan sekedar pemboikotan, tapi boikot yg sistematis dan solutif. boikot yg rapi serta boikot yg berasal dari atas sampai bawah (kerjasama pemerintah dan masyarakat). Masalahnya apa kita siap dan apakah pemerintah sadar dan mau..!!??

Dalam hal; jika boikot berhasil tp menyebabkan pengangguran massal, dari sisi idealisme religius mungkin Ustad akan mengatakan lebih baik kelaparan dan jadi pengangguran daripada kerja dengan yahudi. bukan salah dan bukan benar, mungkin itu sisi idealisme keyakinan. Tapi klo dari sisi nasional dan sisi ekonomi negara, mungkin ga bisa sekeras itu. Oleh karena itu, teriakan dan semangat boikot harusnya bukan cuma semangat, tp sekali lagi juga semangat mem-produksi barang sendiri sebagai barang pengganti dan sebagai lapangan kerja pengganti.

Apa kita harus menunggu lahir nya Mahatma Ghandi versi Indonesia???  (leo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: