Gili Trawangan (ke-prihatinan dibalik eksotisme)

Foto : lombok-tours.com

Gili Trawangan adalah yang terbesar dari ketiga pulau atau gili (Kepulauan Gili) yang terdapat di sebelah barat laut Lombok. Trawangan juga satu-satunya gili yang ketinggiannya di atas permukaan laut cukup signifikan. Dengan panjang 3 km dan lebar 2 km, Trawangan berpopulasi sekitar 800 jiwa.

Di Gili Trawangan (begitu juga di dua gili yang lain), tidak terdapat kendaraan bermotor. Sarana transportasi yang lazim adalah sepeda (disewakan oleh masyarakat setempat untuk para wisatawan) dan cidomo, kereta kuda sederhana yang umum dijumpai di Lombok. Untuk bepergian ke- dan dari ketiga gili itu, penduduk biasanya menggunakan kapal bermotor dan speedboat. (sumber http://www.lombokgilis.com/pulau-gili-trawangan.htm )

Terpesona, jatuh cinta, dan berdebar-debar. Itu perasaan saya waktu melihat keindahan pulau Gili Trawangan di salah satutayangan televisi.Bibir pantai dengan pemandangan laut biru disertai indahnya matahari terbit dari ufuk timur dengan bayang bayang Gunung Rinjani membuat tempat ini dikatakan “paradise island” dan “perfect island” bagi sebagian orang.

Foto : pantaitrawangan.blogspot.com

Tapi dibalik keindahannya, ada yang mengusik hati saya. Ya, hotel-hotel dibangun, rumah-rumah makan didirikan dan kafe-kafe bermunculan. Perkembangan ini di satu sisi menguntungkan bagi perekonomian setempat dan mengangkat kehidupan warga pulau ini. Ironis nya, para pemodal dari tempat-tempat tersebut adalah warga asing tang mulannya datang ke Gili sebagai wisatawan atau turis. Toko “ice cream” di tepi pantai misalnya. toko “ice cream” ini mampu mengeruk laba hingga 70 jt/bln pada masa sepi. Dan pada masa libur, laba bisa mencapai ratusan juta. Selain itu hotel-hotel mewah, restoran, dan cafe pun pemilikinya adalah orang asing (bule). Sementara warga setempat hanya menjadi pekerja saja.

Dan sekarang Gili Trawangan pun dikenal sebagai “party island” oleh para turis mancanegara. Pesta musik di tepi pantai, lampu-lampu disko dengan musik gemerlap pun menghiasi Gili setiap malamnya. Artinya, bukan hanya “menjadi raja” di Gili, budaya hedonis barat pun mau tidak mau menjadi hal yang lumrah di Gili saat ini.

Ya, ini lah negaraku, abis sudah. Apa yang bisa negara ku pertahankan dan banggakan setelah alam, budaya, agama, dan manusia telah tergadai oleh keadaan. entah salah siapa? atau tidak ada yang salah? yang pasti mereka mengusik hati ku. ( leo )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: