MANTAN ATLET OLIMPADE JADI TUKANG JAHIT SEPATU

Ilustrasi
Yohanes Lesmana

Di atas kursi roda, Mulyadi berjuang sebagai atlet membawa nama Indonesia ke pentas dunia. Gelar juara nasional dan internasional pun pernah digenggamnya. Bahkan namanya ikut tercatat dalam tim Olimpiade khusus penyandang cacat (Paralympic) Sydney 2004. Namun kini atlet paralympic itu harus berjuang menyambung hidupnya dan keluarga dengan menjadi penjahit sepatu.
Mulyadi, nama itu barangkali asing di telinga. Maklum warga Dusun II Sei Rotan, Percut Sei Tuan, Deli Serdang, sekitar 13 kilometer dari Kota Medan itu, bukan selebritis yang banyak menghiasi layar kaca. Bukan juga politisi atau pengamat yang suka umbar pendapat. Mulyadi minim publikasi sehingga tak semua orang mengenalnya. Namun apa yang diraih Mulyadi rasanya pantas membuat manusia normal malu. Dari fisik yang tak sempurna dia justeru mampu mengukir prestasi nasional dan internasional. Dari atas kursi rodanya atlit angkat berat ini membawa nama Sumut dan Indonesia ke pentas dunia. Meski tercatat sebagai atlit nasional, jangan bayangkan hidup Mulyadi bergelimang rupiah.
Sebaliknya di atas kursi rodanya, Mulyadi dan keluarganya hidup sangat sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga berbagai usaha dilakoni. Dari mulai jualan rokok, mengumpulkan barang bekas
sampai jadi tukang jahit sepatu.
Baginya pantang merengek, apalagi mengekploitasi kekurangan fisiknya untuk mendapatkan belas
kasihan. Bahkan dia tak pernah menyesali, ketika namanya sebagai atlit yang pernah membawa nama
Indonesia ke pentas dunia seolah dilupakan.
Saat ditemui, Mulyadi sedang santai di halaman depan rumahnya. Ayah dua orang anak yang sejak kecil mengalami lumpuh layu akibat dihajar polio itu sedang duduk ditemani istri dan anaknya. Istri Mulyadi juga tercatat sebagai atlit penyandang cacat. Mulyadi dan keluarganya tinggal di sebuah rumah petak sangat sederhana yang menempel di rumah mertua.
Jika sekilas melihat kondisi Mulyadi dan keluarganya, tidak akan terbayangkan kalau dia adalah atlit nasional. Tidak seperti lazimnya atlit normal yang bergelimang fasilitas. Kondisi Mulyadi dan keluarganya terbilang sangat sederhana. Bahkan demi memenuhi kebutuhan hidup, sebagian medali yang pernah diraih terpaksa dilego.
“Ginilah keadaanya,”sambut Mulyadi sembari mempersilahkan tamunya mengambil tempat duduk.
Rumah Mulyadi hanya berisi dua ruangan yang digunakan untuk kamar tidur dan dapur. “Kita ngobrol di
halaman saja ya, soalnya rumah saya tak ada ruang tamu,”katanya lagi.
Banyak kesan selama berbincang dengan Mulyadi. Kata-katanya teratur dan enak diajak diskusi. Terlihat kalau dia punya pengetahuan yang luas. Tapi uniknya Mulyadi mengaku tak pernah merasakan bangku sekolah. “Bener saya memang nggak pernah sekolah,”ujarnya.
Lalu darimana dia menyerap informasi dan belajar membaca. Bagi Mulyadi belajar tak harus di bangku sekolah. Keyakinannya terekam kuat saat menegaskan kalau siapa pun bisa jika punya keinginan.
“Nabi Muhammad.SAW tak pernah belajar, tapi dia pintar,”katanya.
Banyak hal yang dipelajarinya secara otodidak termasuk membaca. Dia kemudian mengenang bagaimana
saat pertama mengenal huruf dari bungkus rokok. Dia minta teman-temannya mengenalkan satu per satu
huruf yang tertera. Dari situ dia sendiri yang kemudian belajar merangkai huruf menjadi kata-kata.
Gagal Jadi PNS
Seperti umumnya seorang atlit, fisik Mulyadi juga digerogoti usia. Dan Mulyadi sangat menyadari itu. Berbagai usaha dikerjakannya untuk persiapan masa depan. Sesekali dia masih juga berlatih, kendati tidak lagi rutin seperti dulu.
Ada banyak usaha yang dikerjakan, dari mulai bisnis barang bekas sampai jadi tukang jahit sepatu. Sejak kecil Mulyadi sudah belajar mandiri. Dia bukan tipe orang yang suka meminta-minta.Kekurangan fisik tak membuatnya minder apalagi putus asa. Bisa dikatakan kepercayaan diri dan semangatnya jauh melewati batas normal.
Baginya tak ada istilah pasrah pada nasib. Dia merasa tak berbeda dengan mereka yang normal dan percaya setiap orang sudah diatur rezekinya.
Sebenarnya Mulyadi sempat ditawari jadi pegawai negeri di kantor Kabupaten Lubuk Pakam. Ceritanya usai mengikuti kegiatan Pekan Olahraga penyandang cacat nasional (Porcanas), Mulyadi membuat proposal ingin ketemu Bupati. Singkatnya saat membaca catatan prestasinya, Bupati Deliserdang waktu itu, H Abdul Hafidz tertarik . “Mau jadi pegawai,”katanya memberi tawaran.
Saat itu Mulyadi sempat senang, tapi saat ditanya ijazah, dia terpaksa menggeleng. Pak Bupati sempat tak percaya dengan pengakuan Mulyadi. Darimana jalannya orang tak bersekolah mampu menyusun kata-kata dalam proposal. Tapi lagi-lagi Mulyadi menegaskan kalau dirinya memang tak punya ijazah. Lalu dia memohon supaya tawaran jadi pegawai diganti dengan bantuan sepeda motor.
Tanpa banyak kata, permintaan itu langsung “diasesekan”. Namun bukan sepeda motor yang diberikan tapi berupa uang. Dari situ Mulyadi kemudian membeli motor bekas yang didesain sedemikian rupa sehingga bisa dikendarai untuk orang seperti dirinya.
Dengan sepeda motor itu, Mulyadi berusaha untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Dia mengaku, pernah menjadi kolektor rekening listrik, menjual rokok di pajak Tembung, sebelum akhirnya menjadi penjahit sepatu. Pendeknya Mulyadi tak pernah mau bergantung pada orang lain.
“Saya sekarang sedang mencari tambahan modal dengan menjajaki kemungkinan mendapat bantuan pemerintah, ada nggak ya kira-kira,”ujar Mulyadi seperti bertanya pada diri sendiri (YL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: