GANJA “TULANG PUNGGUNG” SEKALIGUS “ANCAMAN” BAGI KELUARGAKU

Oleh : Yohanes Lesmana
Hari yang pekat jadi saksi ketika Maria (nama samaran) pulang dalam keadaan lelah. Senyum manis dan canda tawanya menghantarkannya pada sang ayah yang sedang bertransaksi ganja dengan seorang temanku. Diiringi cium hangat ia menyapa “Malam pa”, ujar Maria ceria. Sambil melihat kearah kami, maria pun langsung berlalu ke dalam kamar. Rentetan waktu dan hari yang kejam ini memaksanya untuk tegar dan menerima keadaan kalau Ganja lah yang membiyayai hidupnya. Ironis memang, namun itulah realita yang ada. Selang berapa lama, sang istri keluar membawa sepaket ganja dalam bungkusan Koran kecil menghampiri temanku Reno. “Ini No, cuma sepaket aja nih? Dikit amat” Tanya tante Stella. Tanya dan transaksi itupun larut dalam perbincangan kami dengan om Mar. Kepala keluarga sekaligus Bandar terkemuka di wilayah Jakarta Barat.

Sambil memperhatikan, kami terus menyimak percakapan antara om Mer dengan rekan kami yang membeli sepaket ganja. om Mer mengaku tak ada pilihan. Ia harus menghidupi istri dan tiga anaknya dengan menjual daun terlarang itu. “Ya, sekalipun hukumannya berat saya tetap harus berani. Kalau lo tau berapa tahun hukuman untuk orang yang memilikai ganja dalam jumlah besar, pasti ngeri banget” tegasnya. “seumur hidup coy, bahkan lebih berat dari kriminalitas lainnya” tambahnya mengimbuh.

Sambil berbincang-bincang seputar pengalaman mudanya, ia mengambil sepaket ganja ukuran kecil kemudian dilinting besar. “Ayo, bakarlah. Asal ngeblur aja” tawarnya. “ya, asal cengar-cengir aja” ajaknya dengan gaya berkelakar.

Tidak om, terimakasih, tolak saya dengan nada hormat. “Wah, bagus tuh. Kalau bisa jangan yah” ujar om Mar. “kalau sudah kaya saya dan Rino sudah susah. Kalau pas ga ada barang, emosi ga terkontrol” tambahnya lagi.
Maria keluar dari kamar dan berlalu ke ruang televisi sambil sedikit mencuri pandang kearah kami. Dalam pikiran saya terlintas, kalau maria sedikit berpikir, inilah orang-orang yang memaksa ayahku untuk bertahan dengan dunia narkoba, namun mereka juga yang membuat dapur keluargaku mengepul. Ah, dilema. Pikirku.

Ardi, anak om Mer yang paling kecil berkisar umur 5 tahun menghampiri papanya untuk sekadar minta digendong. Sambil bercerita dan menghisap selinting ganja, om Mer menggendong Ardi. Waktu pun menunjukan pukul 23.00. kami pun bermaksud untuk bergegas pulang.

“Ok, hati-hati”, ingat pesan om. Kalau ga kenal sama narkoba, jangan pernah nyoba-nyoba. Nanti ketagihan malah repot.” Kata-kata itu terus terngiang dalam telinga ketika om Mar, istri dan anaknya mengantar kami untuk pergi.

Ironis memang, Lingkungan kerja yang sulit mengakibatkan tak ada pilihan untuk membuat orang bertahan hidup. Maka, cara-cara yang dilarang pun dihalalkan demi mempertahankan keluarga.

Salah siapa? Pertanyaan klasik namun tetap continue. Apakah pemerintah dan aparat negara memahami jika om Mer tertangkap? Pasti tidak. Satu yang pasti, ia harus bertarung dengan “maut” untuk tetap mempertahankan hidup istri dan ketiga anaknya. Dan pemahaman yang bijak dari om Mer dan istri yang mendidik anaknya untuk sama-sama memahami usaha yang dijalankan untuk menunjang keluarganya, menjadi hal yang menarik untuk diteliti. Terutama cara untuk tabah kalau-kalau “timah panas” siap mengancam karir si tulang punggung keluarga. Kebanggaan tersendiri bagiku bagi seorang laki-laki yang bertanggung jawab bagi keluarganya, sekalipun resiko profesi yang digelutinya terlalu berbahaya (YL)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: