Pertarungan Pamor “Anak Sulung dan Anak Bungsu”

Oleh : Jessica Florensia Irene

JAKARTA- Politisasi persepakbolaan tanah air lesakan bakat-bakat pemain muda berbakat. Pemain-pemain muda hasil naturalisasi pun menjadi korban politisasi antar “politikus” sepakbola tanah air.


Berdirinya Liga Primer Indoenesia (LPI) , memang mendulang protes dari PSSI. LPI dianggap ilegal karena menggelar kompetisi di luar payung PSSI dan FIFA.

“LPI ini berdiri karena adanya rasa ketidakpuasan terhadap pengelolaan sepak bola di Indonesia (PSSI) yang carut marut. Misalnya, banyak suap, pengaturan score, dll,” tutur pengamat sepakbola Ronny Pangemanan, saat diwawancarai di Istora Senayan, Rabu (12/1).

Menurut Ronny, LPI bertujuan untuk mendidik yang artinya membuat sebuah kompetisi yang bersih ,transparan, dan menghindari APBD. Ronny juga menyayangkan soal nasib para pemain muda yang berbakat, seperti Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan yang namanya dicoret dari daftar pemain timnas lantaran mereka bergabung dengan tim Persema Malang yang tak lain adalah bagian dari LPI.

“Sangat disayangkan mengorbankan bakat-bakat yang sebenarnya bisa membawa nama sepak bola ke kancah nasional maupun internasional. Seharusnya, ada toleransi  untuk pemain berbakat, pemain yang luar biasa, untuk di akomodir. Tetapi karena ego, PSSI menutup pintu. PSSI berdalih bahwa pemain yang bermain di luar kompetisi PSSI tidak dapat masuk dalam daftar pemain timnas.” Tutur Ronny ketika ditanya mengenai beberapa nama pemain berbakat yang dicoret.

Berbeda dengan Ronny, Mundari Karya, salah satu mantan pelatih timnas, menuturkan, bedirinya kompetisi di luar PSSI adalah ilegal. Ia juga menambahkan bahwa tujuan LPI tidak lain hanya  untuk menjatuhkan Nurdin Halid semata sebagai ketua PSSI.

Menurutnya, kinerja PSSI selama kepemimpinan Nurdin Halid yang sudah hampir 2 periode  ini memang tidak memberikan hasil yang memuaskan. Namun, berdirinya LPI akan membuat persepakbolaan di Indonesia semakin kacau balau.

“Sebenarnya kita sudah nego dengan LPI, untuk tidak membuat kompetisi di luar PSSI. Kalau memang ingin menggantikan Nurdin, kita bisa buat kongres. Bukan dengan cara seperti ini. Kalau seperti ini, akibatnya persepakbolaan Indonesia akan dikenai sanksi bahkan skors dari FIFA,” ujar Mundari saat ditemui di Stadion Kuningan, Jumat (21/1) kemarin.

Mundari juga berpendapat mengenai dicoretnya nama-nama pemain dari daftar timnas. Menurutnya, itu bukan menjadi suatu hal yang perlu dipermasalahkan. Itu hanya politisasi saja.

“Sebetulnya pemain seperti Irfan dan Kim di Indonesia ini banyak.  Kita tidak butuh pemain-pemain naturalisasi seperti mereka,” ujar Mundari menanggapi persoalan dicoretnya beberapa nama pemain berbakat. “Perlu ditekankan di sini, klub-klub yang pindah ke LPI, katakanlah Persema Malang, itu hanya menjadi ‘juru kunci’ di ISL. Jadi ya bisa kita lihat bagaimana kualitas klub maupun pemain di LPI,” tambahnya.

Ronny menganjurkan, satu cara untuk mengatasi permasalahan ini, yaitu dengan adanya kolaborasi antara PSSI dengan LPI. Menurutnya, akan lebih baik bersama-sama demi kemajuan sepak bola nasional.

Namun, Mundari menyanggah pernyataan tersebut. Menurutnya, jika ingin membangun sesuatu itu harus tahu dan jelas tujuannya.

“Kalau memang tujuannya itu untuk membangun yah bolehlah bergabung. Tetapi LPI ini tujuannya hanya untuk menjatuhkan Nurdin, sama sekali bukan untuk kemajuan sepak bola nasional,” jawabnya singkat. (JFI).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: