BELAJAR DARI ACONG, JOKO DAN SITORUS (1)

Oleh : Dede Rianto

Indonesia negeri kaya disebelah tenggara Asia, berjumlah pendudul lebih dari 230 juta jiwa serta memiliki 17.508 pulau dan terdiri dari berbagai macam suku, bahasa juga budaya. Indonesia negeri besar dengan jumlah penduduk muslim terbanyak didunia. Meskipun penduduknya mayoritas muslim (85,2%) tapi Indonesia bukanlah negara Islam.
Di negeri yang memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika (Berbeda-beda tapi satu tujuan) ini, hidup berdampingan berbagai macam suku, etnis, budaya dan agama. Kita mengenal beberapa suku besar diantaranya jawa, sunda, madura, batak, bugis, minangkabau dan papua serta etnis pendatang yang jumlahnya minoritas seperti tionghoa, india dan arab. Tentunya semua hidup berdampingan meskipun memiliki perbedaan dalam hal budaya maupun agama.
Dalam hal beragama Indonesia mengakui 5 (lima) agama yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu dan Buddha serta 1 kepercayaan yang diakui pada zaman pemerintahan KH Abdurrahman Wahid (Gusdur) yaitu Konghucu. Negara menjamin semua penduduknya bebas dalam hal memeluk keyakinan, dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 menyatakan bahwa negara menjamin kebebasan beragama dan berkepercayaan (Pasal 28E jo Pasal 29 ayat 1).
Bahkan, dalam Pasal 28I UUD 1945 dinyatakan bahwa kebebasan beragama tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun. Ketentuan itu masih diperkuat lagi dalam Pasal 22 UU No 39/1999 tentang HAM. Setiap orang mempunyai kebebasan berpikir, berkeyakinan, dan beragama. Hak ini mencakup kebebasan untuk menganut agama atau kepercayaan atas pilihannya sendiri. Setiap orang memiliki kebebasan, secara publik atau pribadi untuk memanifestasikan agama atau keyakinan di dalam pengajaran dan peribadatannya.
Ironisnya akhir-akhir ini kita sering melihat pertikaian-pertikaian yang melibatkan atau mebawa-bawa nama agama. Mulai dari penyerbuan Jamaah Ahmadiyah di Cikeusik Banten, Kerusuhan di Temanggung karean ketidakpuasan massa terhadap vonis yang dijatuhkan kepada penista agama hingga berlanjut kepada pembakaran sekolah-sekolah dan gereja serta yang terakhir adalah penyerbuan orang tak dikenal terhadap Pesantren Yapi di Jawa Timur.
Indonesia merupakan negara yang majemuk terdiri dari berbagai macam etnis dan agama, hal tersebutlah yang menjadikan Indonesia negeri yang besar dan kaya akan keragaman. Perbedaan tidaklah harus menjadi jurang pemisah, tetapi seharusnya menjadi rem pelekat. Sepertinya bangsa ini harus lebih banyak belajar, tidak usah jauh-jauh ke negeri China tentunya karena hanya akan memakan waktu dan biaya yang tidak sedikit. (Seperti wakil rakyat yang study banding keluar negeri)hehee…
Cukup kita flashback ke tahun 90an dan belajar dari kisah tiga orang anak kecil yang bersahabat. Acong, Joko dan Sitorus itulah nama ketiga tokoh dalam sebuah iklan di era tahun 90an, mungkin bagi sebagian orang yang lahir di tahun 1998 keatas atau pada tahun itu masihkecil dan belum mengerti apa-apa, nama-nama tersebut terdengar asing. Dalam iklan tersebut terdapat makna yang sangat dalam bagi bangsa ini dan tentunya sedikit menyinggung keadaan pada saat dimulainya era reformasi yaitu perpecahan dan krisis kepercayaan.
Acong menggambarkan seorang anak keturunan Tionghoa, Joko anak Jawa dan Sitorus yang merupakan orang Batak. Dalam iklan berseri tersebut dikisahkan Acong yang mau berbagi ketika Sitorus kehilangan bekal sarapannya dan Acong yang berterimakasih kepada Joko yang meminjaminya raket badminton ketika kayu pemukul shuttle cocknya patah. Sederhana tapi dalam, berdurasi pendek tapi selalu terkenang sepanjang masa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: