“Dibutuhkan nyali yang besar. Selama ini kami diam. Tapi, kalau tidak sekarang, kapan lagi.”

Jurnal_Demokrasi : Yohanes Lesmana

Gerakan Indonesia Tanpa FPI menyebutkan, untuk melawan Front Pembela Islam dibutuhkan nyali yang sangat besar. Apalagi, FPI terkenal dengan tindak tanduk anarkisnya.

“Dibutuhkan nyali yang besar. Selama ini kami diam. Tapi, kalau tidak sekarang, kapan lagi,” ujarnya Wakil Koordinator Lapangan Gerakan Indonesia Tanpa FPI Fifi Widjyanti, hari ini.
Sebelumnya, terang Fifi, masyarakat seperti terbelenggu dan hanya bisa menyaksikan aksi anarkis FPI. “Tapi, kini waktunya kami bersuara,” tegasnya.

Melalui gerakan Indonesia Tanpa FPI, Fifi berharap pemerintah dapat segera bersikap. Sehingga masyarakat terbebas dari belenggu kekerasan, yang kerap dilakukan FPI.

Untuk diketahui, Gerakan Indonesia Tanpa FPI terinspirasi aksi masyarakat Dayak di Kalimantan Tengah, yang menolak kehadiran FPI di wilayahnya.

“Semua elemen masyarakat sudah merasa terganggu dan gerah dengan aktivitas anarkis FPI. Selama ini hanya sebatas petisi protes di sosial media. Kalau Kalimantan saja bisa kenapa Jakarta tidak melakukan,” kata Tunggal Pawestri, juru bicara gerakan, usai konsolidasi di Cikini Jakarta.

Fokus dari Gerakan Indonesia Tanpa FPI adalah menolak segala bentuk penggunaan kekerasan yang biasa dilakukan oleh FPI dalam penyelesaian kasus. Kasus terakhir kekerasan yang dilakukan FPI adalah perusakan kantor Kementerian Dalam Negeri 12 Januari 2012 lalu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: